LaM8SnlyhO5tX8fWRh51ZtOsoiNS32zuVQj6lOS1

Rasakanlah: Belajar Menerima Rasa Sakit dan Tumbuh dari Dalamnya

Posting Komentar
belajar menerima rasa sakit dan tumbuh dari dalamnya

Rasakanlah 

Aku tumbuh sebagai orang yang terlalu perasa.

Terlalu perasa dalam artian yang sesungguhnya  bukan sekadar mudah terharu saat menonton film,atau ikut sedih mendengar cerita orang lain. Lebih dari itu. Aku merasakan segalanya dengan intensitas yang kadang membuatku sendiri tidak mengerti. Kebahagiaan kecil bisa terasa seperti dunia sedang berpihak padaku. Tapi kesedihan bahkan yang sepele sekalipun bisa menenggelamkan.


Lama-lama, menjadi perasa terasa seperti kutukan.


Ketika Membuka Diri Terasa Berbahaya

Karena setiap kali aku membuka diri untuk merasakan, yang datang bukan hanya yang indah-indah. Yang datang adalah semuanya termasuk sakit yang tidak selalu punya nama, rindu yang tidak tahu ke mana harus pergi, dan luka yang datang dari arah yang tidak pernah kuduga.
Sampai di satu titik, aku memutuskan: cukup. Aku tidak mau merasa lagi.

Maka aku belajar untuk mati rasa. Dan untuk sementara, itu terasa seperti keselamatan.


Luka yang Tidak Pergi Hanya Karena Kita Mengabaikannya

Tapi luka tidak pernah benar-benar pergi hanya karena kita tidak menatapnya.
Masa sulit itu datang dengan caranya sendiri. Tidak selalu dramatis, tidak selalu disertai hujan dan lagu sedih. Kadang ia datang diam-diam dalam bentuk pagi yang terasa berat, dalam bentuk nama yang tiba-tiba muncul di kepala tanpa undangan, dalam bentuk tangis yang tidak tahu harus menjelaskan dirinya dari mana.
Waktu itu, aku memilih untuk tidak merasakannya sepenuhnya. Aku pikir, kalau aku terus bergerak, rasa sakit itu akan ketinggalan di belakang.

Ternyata tidak. Ia ikut. Diam-diam ia ikut ke mana saja aku pergi.


Titik Balik: Satu Malam yang Mengubah Segalanya


Yang mengubah segalanya bukan sebuah momen besar. Tidak ada kilat, tidak ada epifani yang tiba-tiba menerangi semuanya. Hanya sebuah malam, ketika aku akhirnya berhenti dan membiarkan diri merasakan semuanya. Sesakit-sakitnya.
Dan anehnya, di sanalah aku mulai bisa bernapas.

Sepertinya rasa sakit itu selama ini hanya ingin diakui. Ingin didengar. Ia tidak memintaku untuk larut ia hanya memintaku untuk tidak berpura-pura bahwa ia tidak ada.


Ketika Kenangan Lama Kembali Menyentuh


Sekarang, masa sulit itu sudah terlewati. Atau setidaknya, begitu rasanya di hari-hari biasa.
Tapi ada waktu-waktu tertentu ketika ingatannya kembali sebuah lagu, sebuah sudut kota, sebuah percakapan yang tiba-tiba menyentuh sesuatu yang kukira sudah sembuh. Dan sakit itu ada lagi tidak separah dulu, tapi tetap ada.

Dulu aku akan panik menghadapi itu. Sekarang aku tahu: itu bukan tanda bahwa aku belum sembuh. Itu hanya tanda bahwa aku pernah benar-benar merasakan sesuatu. Dan hal-hal yang pernah benar-benar kita rasakan, memang akan selalu meninggalkan bekasnya.


Satu Hal yang Paling Aku Percaya Sekarang

Dari semua yang sudah kulewati, satu hal yang paling aku percaya:

Sesakit apapun, rasakanlah. Sesulit apapun, jalanilah.
Bukan karena kita harus kuat. Bukan karena rasa sakit itu baik-baik saja. Tapi karena tak ada kata-kata, tak ada kebijaksanaan, tak ada versi diri yang lebih utuh yang bisa lahir dari hati yang tidak mau merasa, tidak mau berpikir.
Kita tidak tumbuh dengan menghindari luka. Kita tumbuh dengan duduk bersamanya cukup lama sampai kita mengerti apa yang ia coba ajarkan.

Dan mungkin itulah alasan kita diberi rasa bukan untuk menderita, tapi untuk benar-benar hidup.




Related Posts

Posting Komentar