LaM8SnlyhO5tX8fWRh51ZtOsoiNS32zuVQj6lOS1

Awalnya Cuma Mau Rehat dari Instagram, Tapi Kok Jadi Takut Balik?

Posting Komentar

Di awal tahun ini, entah gimana ceritanya aku memutuskan untuk rehat dari Instagram.

Sebenarnya bukan pertama kali juga, karena sebelumnya aku sudah beberapa kali deactivate akun dengan alasan “detox sosmed”.

Tapi yang kali ini rasanya beda.
Aku cuma uninstall aplikasinya, tanpa deactivate akun.

Awalnya kepikir, aku takut ada orang yang khawatir.
Haha… padahal ya, siapa juga yang peduli.

Aku cuma pengen, kalau ada teman yang mau DM atau tag foto, tetap bisa.

Sejujurnya, alasan utamanya simpel.
Aku lagi bosan.
Dan mungkin… capek juga sama noise yang ada di sana.

Aku cuma ingin mengurangi scroll, dan sedikit menenangkan kepala.

Dan tanpa sadar, itu ternyata cukup membantu.
Aku jadi lebih jarang buka sosmed.

Dan isi kepalaku terasa lebih tenang. 

Beberapa kali aku sempat kepikiran untuk install lagi.
Tapi selalu aku tahan.

“Buat apa juga?” pikirku.

Sampai akhirnya ada teman-teman yang mulai nyeletuk,
“Kenapa sih nggak buka IG?”
“Aku udah tag kamu loh.”

Dan anehnya, itu jadi dorongan paling kuat.

Akhirnya, aku coba install lagi aplikasinya.

Tapi… saat hampir dibuka, aku malah merasa deg-degan.

Jantungku berdebar cepat.
Rasanya kayak panic attack yang tiba-tiba datang lagi.

Aku belum sempat masuk ke aplikasinya, tapi tubuhku sudah bereaksi duluan.

Aku tarik napas. Pelan-pelan mencoba menenangkan diri. Dan di situ aku mulai bingung.

Sebenarnya aku kenapa?

Apa karena sudah lama tidak buka? Atau ada hal lain yang selama ini aku hindari?

Apa aku takut melihat sesuatu?
Takut membandingkan diri?
Takut kembali ke kebiasaan lama?

Atau…
aku takut menghadapi diriku sendiri?

Aku belum punya jawabannya.

Tapi aku mulai sadar, ini kayaknya bukan soal Instagram saja.

Selama aku rehat, ada sesuatu yang berubah.

Aku jadi lebih nyaman dengan hal-hal yang lebih ringan.
Scroll video lucu, tanpa harus tahu kabar siapa-siapa.

Ada rasa lega… karena aku tidak harus “mengikuti” kehidupan orang lain.

Dan mungkin, tanpa sadar, aku sudah mulai berjarak dari versi diriku yang dulu.

Versi diriku yang sering membandingkan diri. Yang terlalu keras sama diri sendiri.
Yang gampang menyalahkan diri atas hal-hal yang sebenarnya bukan salahku.

Versi diriku yang jadi “hater” pertama untuk dirinya sendiri. Dan ternyata, itu melelahkan.

Pelan-pelan… seperti racun yang diminum tanpa sadar.

Aku juga sadar, aku sering merasa takut.

Takut melihat seseorang muncul di story orang lain.
Takut mendengar namanya.
Takut menghadapi hal-hal yang sebenarnya belum selesai di dalam diriku.

Dan mungkin…aku cuma tidak ingin kembali ke titik itu lagi.

Jadi untuk sekarang, aku memilih untuk tidak membuka Instagram dulu. Bukan karena aku sudah punya semua jawabannya, tapi justru karena aku belum punya.

Aku tidak ingin memaksakan diri. Aku cuma ingin memberi ruang untuk diriku sendiri.

Entah ini bentuk menghindar, atau justru cara aku menjaga diri dari sesuatu yang tidak sehat.

Aku juga belum tahu.

Mungkin suatu hari nanti, aku bisa buka lagi tanpa rasa deg-degan. Atau mungkin aku akan butuh waktu lebih lama.

Tapi untuk sekarang, aku cuma lagi belajar… dengerin diri sendiri, pelan-pelan.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar