Teringat usia yang sudah terbilang bukan lagi anak kecil. Ada banyak hal sederhana yang belakangan ini justru terasa layak untuk disyukuri lebih sering. Salah satunya adalah momen ketika pulang ke rumah.
Karena aku masih bekerja di Jakarta dengan ritme 9–5, aku selalu menyempatkan pulang ke rumah setiap ada waktu libur. Entah itu tanggal merah atau sekadar merasa ingin pulang, selama ada kesempatan, aku pasti pulang.
Momen kepulangan ini selalu aku tunggu. Dan ternyata, bukan hanya aku. Orang rumah juga selalu ikut excited setiap kali aku bilang akan pulang.
Mama misalnya. Selalu ada pertanyaan yang berulang:
"Jadi pulang?"
"Tanggal berapa pulang?"
"Hari apa pulangnya?"
Pertanyaan yang sama, diulang hampir setiap tiga hari sekali. Mungkin karena mama tidak sabar. Atau mungkin juga takut lupa. Hehe.
Selain memastikan kepulanganku, mama selalu menanyakan satu hal penting:
“Mau dimasakin apa besok?”
Sebuah pertanyaan sederhana, tapi selalu terasa seperti anugerah. Salah satu kegembiraan terbesar ketika pulang ke rumah adalah masakan mama. Kalau aku pulang, masakan mama rasanya seperti menu restoran bahkan mungkin lebih keren. Semua makanan yang ingin aku makan, hampir selalu ada. Seolah aku pulang untuk “perbaikan gizi”. Hehe.
Daftar menu sudah tersusun rapi di chat WhatsApp. Dan tentu saja, karena mama tahu aku sangat menyukai pisang goreng, beliau selalu menyiapkan pisang goreng dan teh hangat setiap pagi.
Pernah suatu kali aku pulang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Sesampainya di rumah, mama memberi kejutan. Tidak ada kue ulang tahun. Yang ada justru setumpuk pisang goreng kesukaanku, lengkap dengan lilin di atasnya. Hehe. Terlihat sangat sederhana, tapi aku sangat bersyukur. Mama tahu betul apa yang membuat anaknya bahagia.
Selain mama, ada kakak perempuanku yang tidak kalah excited setiap kali adiknya mau pulang. Kurang lebih sama, kakakku juga sering bertanya kapan aku pulang. Hal lucu yang selalu ia lakukan adalah mengajakku jalan-jalan ke kota. Padahal aku justru pulang ke rumah karena sudah terlalu suntuk dengan hiruk pikuk Jakarta. Hehe. Untungnya kakakku tidak pernah marah kalau aku menolak ajakannya.
Lalu ada bapakku. Sosok yang selalu siap menjadi supir antar-jemput untuk anak perempuan bungsunya ini. Bapak selalu menjemputku di stasiun dengan sepeda motornya.
Bapakku ini sebenarnya cukup penakut. Keretaku sering tiba di stasiun sebelum subuh. Biasanya aku disuruh menunggu sampai agak terang. Selain karena jarak rumah ke stasiun sekitar 30 menit, jalan yang dilewati juga kanan kirinya sawah, gelap gulita. Jadi bapak-ku sering memilih menjemput setelah subuh.
Tapi akhir-akhir ini, beberapa kali aku pulang, bapakku sudah memberanikan diri menjemputku lebih awal. Mungkin tidak tega melihat anaknya menunggu terlalu lama sendirian di stasiun.
Lucu ya, bentuk cinta orang tua kadang muncul dari hal-hal kecil seperti itu.
Aku merasa, hal-hal sederhana di keluargaku pertanyaan yang diulang-ulang, masakan rumah, jemputan motor di pagi buta adalah alasan kenapa aku terus belajar bersyukur. Di tengah lelahnya hidup di kota, pulang ke rumah selalu mengingatkanku bahwa aku masih punya tempat untuk kembali, diterima, dan disayangi apa adanya.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. 🌿

Posting Komentar
Posting Komentar