Aku punya hubungan yang tidak pernah sederhana dengan Jakarta.
Ada hari-hari ketika kota ini terasa melelahkan, bising, dan terlalu padat untuk ditoleransi. Tapi ada juga hari ketika aku tidak ingin berada di kota lain. Jakarta bukan kota yang mudah dicintai. Mungkin itu sebabnya perasaanku selalu setengah-setengah.
Entah sejak kapan, sepertinya aku mulai menyukai Jakarta setelah beberapa tahun tinggal di kota ini. Kota yang katanya hidup sampai malam. Kota yang sering dibilang lebih kejam dari ibu tiri. Kota yang membuat banyak orang lelah, lalu tetap memaksa mereka bangun keesokan harinya.
Tapi di sini juga aku banyak belajar.
Di Jakarta, aku belajar bertahan. Belajar hidup berdampingan dengan tawa dan lara. Aku bertemu banyak manusia ada yang membuatku mengelus dada, ada yang membuatku menangis, dan ada juga yang membuatku tertawa sampai lupa diri.
Aku masih ingat betul pertama kali hidup di Jakarta.
Ada culture shock yang rasanya lucu kalau diingat sekarang. Cara bercanda orang-orangnya, misalnya. Ada kata-kata kasar yang dilontarkan sambil tertawa, yang awalnya membuatku kaget. Tapi lama-lama aku berpikir, oh, mungkin ini bentuk pertemanan yang tanpa basa-basi, tanpa terlalu banyak topeng. Kasar, tapi jujur.
Belum lagi soal makanan.
Ada mie ayam yang dimakan untuk sarapan. Ada bubur yang, setahuku, biasa dimakan pagi hari di Jakarta justru dimakan untuk makan malam. Hal-hal kecil seperti ini dulu membuatku terkejut, sekaligus tertawa sendiri. Anehnya, sekarang aku sudah mulai terbawa. Bubur ayam malam hari tidak lagi terasa asing. Haha. Walau, jujur saja, aku belum sampai tahap makan mie ayam untuk sarapan.
Jakarta juga kota dengan kecuekannya.
Di sini aku belajar untuk tidak selalu merasa malu. Karena pada akhirnya, orang-orang di kota sebesar ini terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan atau mempedulikan kita. Dan justru dari situ, aku belajar jadi lebih santai.
Mungkin yang membuatku pelan-pelan menyukai Jakarta justru hal-hal kecil yang sering tidak disadari.
Lampu kota yang masih menyala ketika hari sudah terlalu malam. Warung makan yang tetap buka untuk orang-orang yang pulang dengan kepala berat. Kota yang seperti tidak pernah benar-benar tidur, seolah memberi isyarat: kalau kamu belum siap berhenti, aku masih di sini.
Aku juga belajar bahwa di Jakarta, kita bisa merasa sendirian tanpa harus kesepian.
Menjadi anonim di tengah keramaian. Duduk sendiri tanpa ada yang bertanya kenapa. Pergi dan pulang tanpa perlu menjelaskan apa pun. Ada rasa lega dalam kecuekan itu.
Tentu saja, ada hari-hari ketika aku kembali merasa lelah.
Hari-hari ketika macet terasa terlalu panjang, suara klakson terlalu dekat, dan kota ini terasa terlalu penuh untuk ditampung. Di hari-hari seperti itu, rasa benci muncul lagi pelan tapi nyata.
Tapi anehnya, Jakarta tidak pernah benar-benar ingin aku tinggalkan.
Bukan karena kota ini lembut atau ramah, tapi karena di sini aku tumbuh. Dengan cara yang keras, kadang menyebalkan, tapi jujur.
Mungkin memang seperti itu hubunganku dengan Jakarta.
Tidak selalu cinta, tidak pernah benar-benar benci.
Hanya dua perasaan yang berjalan berdampingan seperti kota ini sendiri.

Posting Komentar
Posting Komentar